Benarkan Mereka "The Real Trouble Maker"?
Pada gambar, nampak anak yang sedang dimarahi orang dewasa, yang kelihatannya adalah guru. Jika anda seorang guru, pernahkah anda berada di situasi tersebut?
Mungkin bagi guru, hal itu lumrah terjadi. Setiap guru sepertinya pernah merasakan bertemu dengan anak yang terkadang sering membuat masalah di kelas. Kita sering menyebutnya trouble maker. Anak yang susah diatur, selalu menyulut emosi, sering mengganggu teman, dan menjadi langganan dipanggil di ruang BK.
Hanya saja, saya agak tergelitik dengan istilah trouble maker yang sering disematkan pada anak-anak seperti itu. Benarkah mereka sang pembuat masalah?
Entah mengapa, rasanya ada yang kurang pas dengan sebutan itu. Saya pernah dengar kalau menyebut seorang anak dengan sebutan yang kurang pantas adalah hal yang perlu kita hindari. Sebab sebutan bisa menjadi sebuah doa. Apakah sebagai guru kita tega mendoakan keburukan untuk murid?
Selain itu, tentang keberadaan anak-anak ini, adalah merupakan sebuah fenomena yang sering menimbulkan perbedaan sudut pandang. Bagi orang yang belum pernah menangani kasus anak di sekolah, mungkin akan dengan mudah mengatakan bahwa guru harus lebih sabar. Namun bagi guru, tentu tidak semudah itu bersabar ketika menemui anak yang membuat hari-hari mengajar menjadi sangat melelahkan.
Nah, supaya ada sedikit pencerahan, mari kita renungkan bersama-sama bagaimana cara menyikapi hal ini. Baik bagi para guru, maupun yang hanya memandang dan berkomentar saja.
Pertama tentang sebutan itu. Saat kita menyebut dia adalah trouble maker, mungkin dalam pikiran kita, dia adalah seorang anak yang benar-benar bermasalah. Jika itu sudah tertanam dalam pikiran kita, besar kemungkinan kita tetap menganggapnya bermasalah walaupun dia sedang tidak membuat masalah. Jadi mungkin lebih baik kita menyebutnya dengan sesuatu yang terdengar lebih manusiawi atau lebih positif, misalnya anak spesial atau anak istimewa.
Kedua, tentang bagaimana kita memberlakukan anak-anak yang istimewa tersebut. Saat apa yang mereka lakukan itu kita anggap benar-benar keterlaluan, apakah kita pernah berpikir bahwa sebenarnya mereka itu bukanlah seorang kriminal.
Mereka hanya anak-anak yang mungkin tumbuh di waktu dan tempat yang kurang tepat, serta dengan pola asuh yang salah. Misalnya, anak yang tidak mempunyai orang tua karena sudah meninggal atau karena kedua orang tuanya berpisah. Apa yang kita harapkan dari seorang anak yang bahkan tidak memiliki panutan di rumah. Dia tidak ada yang membimbing dan mengarahkan bagaimana seharusnya menjalani hidup sebagai anak yang baik.
Mungkin lebih baik jika kita mendengarkan dulu apa yang sebenarnya terjadi. Memang tidak semua anak istimewa seperti itu bersedia menceritakan apa yang mereka rasakan atau alami. Butuh trik khusus untuk membuat mereka bisa dekat dengan dan percaya dengan kita. Keterampilan mendengarkan sangat diperlukan disini. Mendengarkan yang penuh empati tanpa menghakimi. Mencoba menggali informasi dengan cara yang baik dan tidak menyinggung perasaan.
Ketiga, setelah kita mendengarkan dan tahu apa yang benar-benar terjadi, cobalah untuk mengajak mereka mencari solusi dengan teknik coaching. Jadi kita orangdewasa hanya perlu memberikan pertanyaan-pertanyaan pemantik yang membuka pikiran mereka untuk berpikir. Kita tumbuhkan kesadaran bahwa apa yang mereka perbuat selama ini adalah merugikan dirinya sendiri. Perlahan-lahan kita giring ke arah pencarian langkah yang tepat agar menjadi lebih baik.
Terdengar sulit? Tentu saja. Jangankan ngurus anak orang sebanyak itu. Mengurus anak sendiri saja terkadang kurang maksimal. Mungkin itu yang ada dalam pikiran seorang guru. Namun, satu hal yang harus kita sadari. Tugas guru adalah mentransfer ilmu dan membentuk budi pekerti. Hal ini tidak akan berjalan baik jika murid sedang mengalami gangguan yaitu perilaku yang kurang baik, tindakan yang kurang sopan, atau bahkan kondisi mental yang sedang tidak baik-baik saja. Sebelum transfer ilmu dan pembentukan budi pekerti bisa dilakukan, masalah-masalah tersebut harus dibereskan dulu, kan?
Tugas mendidik tidak akan pernah mudah, apalagi dalam era yang penuh tantangan seperti saat ini. Tugas kita hanya berusaha semaksimal mungkin, diiringi doa dan tawakal kepada Sang Maha Kuasa. Akhir kata, saya hanya bisa mendoakan semoga semua guru diberi kesehatan dan kekuatan yang lebih untuk mengemban amanah dalam mendidik anak bangsa. Salam.



Komentar
Posting Komentar